Aku
terbaring menatap langit-langit kamarku, pikiranku melayang entah kemana. Semua
penghuni rumah sudah tertidur, kecuali aku dan Ray. Jelas saja jam segini dia
masih berada di luar rumah. Dia adalah kakak perempuanku namanya Araya.
Penampilannya bukan seperti wanita pada umumnya. Dia berpenampilan seperti
cowok, pergi ke kampus pagi dan pulang selalu larut malam, mama dan papa sudah
bosan menegurnya. Di keluarga kami, Araya tidak pantas menjadi seorang kakak,
dia tidak pernah memberiku contoh yang baik dalam berperilaku terhadap kedua
orang tua kami.
“tok….tok..”
suara ketukan terdengar dari jendela kamar,aku membuka tirai dan benar saja,
Araya lewat jendela lagi. Karena pintu depan sudah dikunci mama, dan pasti dia
akan kena semprot kalau berani membangunkan mama. Aku bergegas membukakan
jendela untuknya, dan tubuh kurusnya masuk melalui jendela.
“fiuh…
thank’s yah.” Katanya singkat. Aku hanya mengangguk pelan dan kembali ke tempat
tidurku. Aku membalikkan badan membelakanginya dan berusaha untuk terlelap.
“Ray, apa-apaan ke kampus kaya gitu?
Jins belel, kemeja gak dikancing.” Kata mama ditengah-tengah meja makan saat
kami sedang menyantap sarapan pagi.
“iya.
Ada yang salah? Yang penting ilmunya. Aku bukan mau fashion show, kok.” katanya
sedikit ketus sembari mengoleskan selai di rotinya. Aku tau dia sedang
menyindirku.
“oh
jelas, kita beda kasta ma. Mama memang gak punya anak cowok tapi bukan berarti
dirumah ini boleh ada makhluk jadi-jadian.” Kali ini aku membalasnya dengan
lebih ketus. Dia hanya tersenyum sinis dan pergi begitu saja dengan motornya
yang memuntahkan asap dimana-mana. Aku kadang berfikir, apa iya Araya itu kakak
kandung ku? Kadang aku mengira mungkin dia anak nyasar yang dikirim dari Jasa
pengiriman barang. Sikapnya itu kadang kurang terpelajar menurutku, dari segi
akademik dia memang cerdas, aku yakin itu gen dari ayahku. Terbukti dengan
cetakan jidat lebar ayahku. Betul-betul paduan einsten dan Copernicus. Araya
sangat pandai dalam kalkulasi, matematika, dan art. Mata kuliah kalkulus dimakannya
seperti cemilan, tapi pribadinya super introvert, cuek, urakan, dan yang jelas
dia beda kasta denganku. Hubunganku dengan dia memang tidak terlalu akur, tapi
menurut asas kekeluargaan, kita harus saling menolong. Aku menolongnya dengan
membukakan jendela kalau dia pulang larut malam dan dia menolongku mengerjakan
tugas-tugas yang membuatku syaraf-syaraf di otakku seperti kabel hangus.
Suatu
hari aku terfikir apa yang sebenarnya membuat anak itu selalu pulang malam.
Dengan di dorong rasa penasaran, aku memutuskan untuk membuntutitnya dengan
resiko tidak mengikuti satu mata kuliah. Aku mengendap-endap diparkiran dan
melihat Araya sudah bersiap pergi. Aku bergegas masuk kedalam mobil dan
mengikutinya dari belakang. Setelah satu setengah jam, akhirnya Araya
membelokkan motornya dan ternyata tujuannya adalah sebuah café dengan interior
yang cukup unik. View café yang langsung menghadap ke laut. Pengunjungnya
lumayan banyak. Aku melihat sorot mata Araya yang berbeda saat dia menjumpai
orang-orang yang ada di café itu. Dia bukan Araya yang introvert, tapi Araya
yang menyapa dan disapa semua orang. It’s
really akward, batinku lagi.
Aku
pikir penelusuranku kali ini cukup sampai disini dulu, aku bukan Araya yang
sudah terbiasa pulang malam, aku cenderung penakut dan pasti aku akan menjadi
sorotan mama dan papa kalau aku pulang terlambat. Aku juga lelah mengikuti
jadwal Araya. Makan apa anak itu sampai
bisa bertahan dengan kegiatan sepadat itu? Batinku lagi.
Aku
pulang ke rumah dan langsung melentangkan tubuhku diatas ranjang. Hari ini
sangat melelahkan. Araya tib-tiba masuk kedalam kamar, dan ajaibnya lewat
pintu. Untuk orang normal lewat pintu bukanlah hal yang aneh, tapi karena Araya
itu sedikit aneh, jadi lewat pintu adalah justru hal yang aneh. “cepet banget
pulangnya. Ini masih jam tujuh loh, entar diketawain pintu lagi.” Aku
menyindirnya. Dia hanya tersenyum sinis dan melempariku dengan tas ranselnya
yang penuh dengan buku. “ih nih anak nyebelin banget sih!” aku melempar tasnya
kembali. Dia hanya tertawa senang dan menghempaskan tubuhnya keatas ranjang.
Aku menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut, aku memikirkan kejadian
tadi sore di café.
“kenapa
ngeliatin aku, Dinda? Kamu msih ngira kalo aku ini anak nyasar yang dikirim
jasa pengiriman barang huh?” katanya sembari tersenyum sinis kearahku.
“ih, dasar aneh. Kamu tuh udah aneh
kepedean lagi.” Jawabku lalu membalikkan badan membelakanginya. Jika di
analogikan aku yakin isi kepalaku persis seperti kanvas yang dipenuhi lukisan
abstrak ketika memikirkan anak itu. Sangat tidak jelas. Anak itu memang pantas
dijuluki poker face.
Seperti
biasa Araya buat masalah lagi dan pasti akan selalu dibahas di meja makan saat
sarapan pagi. “papa gak habis pikir sama kamu, Ray.” Kata papa tiba-tiba
menatap Araya dengan tajam. Araya justru terus melanjutkan menghabiskan
sarapannya dan bersikap acuh tak acuh dengan perkataan papa barusan.