Powered By Blogger

Sabtu, 03 November 2012

after a long time...

after a long time... I miss him a lot... :'(
He is my little Boboho.. He is nephew...He called me bunda akia.. hehehe...


super duper cute child ever....hehehe...
I miss him when he beg me to buy him a cake...




 I take a picture when he drink a milk... a milk around his mouth.
 

Jumat, 02 November 2012

Jins belel Araya part 1


Aku terbaring menatap langit-langit kamarku, pikiranku melayang entah kemana. Semua penghuni rumah sudah tertidur, kecuali aku dan Ray. Jelas saja jam segini dia masih berada di luar rumah. Dia adalah kakak perempuanku namanya Araya. Penampilannya bukan seperti wanita pada umumnya. Dia berpenampilan seperti cowok, pergi ke kampus pagi dan pulang selalu larut malam, mama dan papa sudah bosan menegurnya. Di keluarga kami, Araya tidak pantas menjadi seorang kakak, dia tidak pernah memberiku contoh yang baik dalam berperilaku terhadap kedua orang tua kami.

“tok….tok..” suara ketukan terdengar dari jendela kamar,aku membuka tirai dan benar saja, Araya lewat jendela lagi. Karena pintu depan sudah dikunci mama, dan pasti dia akan kena semprot kalau berani membangunkan mama. Aku bergegas membukakan jendela untuknya, dan tubuh kurusnya masuk melalui jendela.
“fiuh… thank’s yah.” Katanya singkat. Aku hanya mengangguk pelan dan kembali ke tempat tidurku. Aku membalikkan badan membelakanginya dan berusaha untuk terlelap.

     
          “Ray, apa-apaan ke kampus kaya gitu? Jins belel, kemeja gak dikancing.” Kata mama ditengah-tengah meja makan saat kami sedang menyantap sarapan pagi.
“iya. Ada yang salah? Yang penting ilmunya. Aku bukan mau fashion show, kok.” katanya sedikit ketus sembari mengoleskan selai di rotinya. Aku tau dia sedang menyindirku. 
“oh jelas, kita beda kasta ma. Mama memang gak punya anak cowok tapi bukan berarti dirumah ini boleh ada makhluk jadi-jadian.” Kali ini aku membalasnya dengan lebih ketus. Dia hanya tersenyum sinis dan pergi begitu saja dengan motornya yang memuntahkan asap dimana-mana. Aku kadang berfikir, apa iya Araya itu kakak kandung ku? Kadang aku mengira mungkin dia anak nyasar yang dikirim dari Jasa pengiriman barang. Sikapnya itu kadang kurang terpelajar menurutku, dari segi akademik dia memang cerdas, aku yakin itu gen dari ayahku. Terbukti dengan cetakan jidat lebar ayahku. Betul-betul paduan einsten dan Copernicus. Araya sangat pandai dalam kalkulasi, matematika, dan art. Mata kuliah kalkulus dimakannya seperti cemilan, tapi pribadinya super introvert, cuek, urakan, dan yang jelas dia beda kasta denganku. Hubunganku dengan dia memang tidak terlalu akur, tapi menurut asas kekeluargaan, kita harus saling menolong. Aku menolongnya dengan membukakan jendela kalau dia pulang larut malam dan dia menolongku mengerjakan tugas-tugas yang membuatku syaraf-syaraf di otakku seperti kabel hangus.


Suatu hari aku terfikir apa yang sebenarnya membuat anak itu selalu pulang malam. Dengan di dorong rasa penasaran, aku memutuskan untuk membuntutitnya dengan resiko tidak mengikuti satu mata kuliah. Aku mengendap-endap diparkiran dan melihat Araya sudah bersiap pergi. Aku bergegas masuk kedalam mobil dan mengikutinya dari belakang. Setelah satu setengah jam, akhirnya Araya membelokkan motornya dan ternyata tujuannya adalah sebuah café dengan interior yang cukup unik. View café yang langsung menghadap ke laut. Pengunjungnya lumayan banyak. Aku melihat sorot mata Araya yang berbeda saat dia menjumpai orang-orang yang ada di café itu. Dia bukan Araya yang introvert, tapi Araya yang menyapa dan disapa semua orang. It’s really akward, batinku lagi.

Aku pikir penelusuranku kali ini cukup sampai disini dulu, aku bukan Araya yang sudah terbiasa pulang malam, aku cenderung penakut dan pasti aku akan menjadi sorotan mama dan papa kalau aku pulang terlambat. Aku juga lelah mengikuti jadwal Araya. Makan apa anak itu sampai bisa bertahan dengan kegiatan sepadat itu? Batinku lagi.
Aku pulang ke rumah dan langsung melentangkan tubuhku diatas ranjang. Hari ini sangat melelahkan. Araya tib-tiba masuk kedalam kamar, dan ajaibnya lewat pintu. Untuk orang normal lewat pintu bukanlah hal yang aneh, tapi karena Araya itu sedikit aneh, jadi lewat pintu adalah justru hal yang aneh. “cepet banget pulangnya. Ini masih jam tujuh loh, entar diketawain pintu lagi.” Aku menyindirnya. Dia hanya tersenyum sinis dan melempariku dengan tas ranselnya yang penuh dengan buku. “ih nih anak nyebelin banget sih!” aku melempar tasnya kembali. Dia hanya tertawa senang dan menghempaskan tubuhnya keatas ranjang. Aku menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut, aku memikirkan kejadian tadi sore di café.
“kenapa ngeliatin aku, Dinda? Kamu msih ngira kalo aku ini anak nyasar yang dikirim jasa pengiriman barang huh?” katanya sembari tersenyum sinis kearahku.
     “ih, dasar aneh. Kamu tuh udah aneh kepedean lagi.” Jawabku lalu membalikkan badan membelakanginya. Jika di analogikan aku yakin isi kepalaku persis seperti kanvas yang dipenuhi lukisan abstrak ketika memikirkan anak itu. Sangat tidak jelas. Anak itu memang pantas dijuluki poker face.
Seperti biasa Araya buat masalah lagi dan pasti akan selalu dibahas di meja makan saat sarapan pagi. “papa gak habis pikir sama kamu, Ray.” Kata papa tiba-tiba menatap Araya dengan tajam. Araya justru terus melanjutkan menghabiskan sarapannya dan bersikap acuh tak acuh dengan perkataan papa barusan.

           

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...